Minggu, 12 Juli 2009

…Sebuah Janji…


Galau! Langit malam ini sudah sehitam arang, namun dia belum juga datang. Aku merasa bersalah atas pertengkaran kami kemarin. Hanya karena hal sepele yang aku besar-besarkan aku tega menampar pipinya. Kalau saja dia tau, betapa menyesalnya hati ini karena telah melukai perasaannya. Aku ingin memeluknya, dan meminta maafnya. Mungkinkah dia semarah itu padaku, hingga untuk bertemu saja dia sudah tidak mau. Padahal dia sudah berjanji untuk menemuiku malam ini. Atau mungkin, dia berbohong? Dan dia tak akan datang?

Aku memikirkan sesuatu terjadi padanya. Mungkin saat ini bundanya sedang sakit, sahabatnya kecopetan, rumahnya kebakaran, atau mungkin kucingnya mau melahirkan? Hihihi… Kalau memang semua itu benar, mengapa sampai saat ini dia tidak memberi kabar? Aku coba telepon rumahnya, namun tak ada jawaban. Handphone-nya pun tidak bisa dihubungi. Apa yang terjadi padanya? Atau dia sengaja mempermainkan janjinya padaku? Lalu, apa gunanya aku menunggu? Sempat terbesit dipikiranku untuk segera pergi dari taman ini. Tapi bagaimana kalau nanti dia datang? Aku tidak mau dianggap orang yang ingkar janji. Semua pengorbananku ini aku lakukan untuk membuktikan besarnya rasa sayangku kepadanya.

Baiklah, aku akan menepati janjiku untuk menunggunya, tegasku dalam hati. Ku sandarkan tubuhku dikursi taman yang penuh debu. Kupandangi langit malam ini, sepertinya bintang bermunculan semakin banyak menghiasi kelamnya malam. Hadirnya menemani aku dimalam yang kian larut. Teng…Teng…bunyi jam taman kota. Jarum panjang sudah dua kali melewati angka dua belas.

Tes! Titik-titik air turun dari langit mengenai kepalaku. Kemudian menetes lagi dan semakin lama semakin membasahi rambut dan tubuhku. Hujan! Gumamku. Haruskah aku pergi meninggalkan tempat ini? Dan meninggalkan dia yang tak kunjung datang? Sembari melipat kedua tangan didada, khayalanku melambung tinggi. Kalau saja, sekarang aku ada dirumah. Duduk dikursi goyang peninggalan nenek dekat perapian sambil menikmati secangkir teh hijau hangat, rasanya pasti tidak sedingin ini. Atau aku sedang berendam air hangat didalam bathtub kamarku dengan bunga-bunga bertebaran diatasnya dan tidak lupa wewangian aromatherapy bunga jasmine kesukaanku, yang mampu menenangkan pikiran.

Gelegeer…. Lamunan ku terbuyarkan oleh gemuruh suara petir. Tidak! Aku tidak boleh pergi. Aku sudah janji untuk menunggunya disini, walau apapun yang terjadi. Karena aku ingin meminta maaf kepadanya. Aku ingin dia tau, betapa galaunya hatiku saat ini. Sabar! Tunggu sebentar lagi. Aku percaya dia pasti datang. Aku mencoba memberi cahaya pada suramnya hatiku.

Detik demi detik berlalu seiring hembusan angin yang kian menusuk kulitku. Bodoh! Teriak ku kemudian. Dia datang terlambat, sangat terlambat, memang disengaja karena tidak ingin bertemu dengan ku. Aku telah mengecewakan hatinya. Dan dia memang tidak mau lagi memaafkan aku. Aku benar-benar bodoh telah menunggunya sekian lama. Kini titik-titik air tidak hanya turun dari langit, tapi juga dari kedua mataku. Mungkin pertengkaran kami kemarin adalah akhir dari segalanya. Karena, sampai detik ini aku tak tahu akan kejelasan hubungan kami.


Hati ini semakin dibuat galau. Rasanya aku ingin beranjak dari tempat ini. Kalaupun aku pergi, toh dia tidak akan menganggapku ingkar janji. Karena dia tidak akan pernah datang. Harapanku pun hanya menjadi asa belaka. Aku pikir, malam ini aku mendapatkan maafnya, dan kami bisa berbagi cerita bersama, menghabiskan sisa-sisa malam dibawah cahaya bulan purnama. Dan aku berharap sang fajar akan datang terlambat jika aku bersamanya. Tapi dimana dia sekarang? Lirihku dalam hati.

Rasanya kesabaranku telah mencapai puncaknya. Masa bodoh! Aku pergi saja! Jeritku dalam hati. Tak terasa air mataku sudah sederas air hujan. Aku memantapkan niat dan segera berjalan meninggalkan bangku taman.

Aku ingin mencari tempat berteduh. Langkah kakiku terhenti, ketika kudapati seorang berbadan tegap berdiri tepat dihadapanku. “Maaf ya…” Seseorang yang aku nanti akhirnya datang, seraya menaruh payung yang ia bawa keatas kepalaku. “Aku gak bermaksud membuat kamu menunggu…” Ucapnya pelan. Melihat kedatangannya aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bibirku gemetar, badanku pun mulai menggigil kedinginan. Ku tumpahkan saja air mataku didadanya. Ia memelukku dengan sebelah tangannya. “Sayang, maaf karena aku cuma bisa nyusahin kamu. Tapi ini semua terjadi diluar kehendakku. Aku sangat menyesal tentang apa yang terjadi kemarin.” Ucapku sambil terus menagis.

Tes! Sesuatu mengenai wajahku, tapi kali ini bukan tetesan air hujan, karena aku berada dibawah payung. Aku segera menghapus tetesan itu, dan aku mendapati cairan berwarna merah yang sedikit kental. Darah? Tanya ku bingung. Dari mana darah ini? Aku melepaskan peulukannya, dan apa yang aku lihat? Dikeningnya penuh darah. “Kamu kenapa?” tanyaku kaget. “Oh ini jawabnya lirih, sambil memegang luka dikeningnya. “Tadi sewaktu perjalanan menuju taman, hujan deras membuat pengelihatanku terganggu. Dan entah kenapa rem mobilku tidak berfungsi. Lalu aku menabrak pohon besar tidak jauh dari sini. Setelah itu aku tidak sadarkan diri. Tak ada orang disekitar situ, jadi tidak ada yang melihat keberadaanku didalam mobil. Sampai akhirnya aku tersadar, dan aku langsung teringat janjiku. Akupun segera berlari untuk menepati janji ku. Janji untuk menemui belahan jiwaku malam ini. Aku pikir kamu sudah pergi meninggalkan tempat ini, tapi ternyata kamu masih setia menunggu sampai aku datang”. Mendengar penjelasannya, tangis ku makin menjadi. Ternyata ini semua bukan keinginannya. Dia gak salah! Justru aku yang jahat karena telah berfikir macam-macam tentang dirinya. Kamu memang malaikatku. “Sayang, maafkan aku…” Ucapku sambil memeluknya erat.

“Iya, aku juga minta maaf telah membuatmu cemas. Sekarang kamu bisa peluk aku.” Aku memeluknya semakin erat dan menumpahkan semua kegalauan hatiku lewat tetesan air mata haru.

“Kalau tangisan bisa bikin kamu lega, aku akan selalu ada disisi kamu sampai kamu merasa lega. Dan sampai kamu bisa maafin kesalahan aku. Sebenarnya aku gak mau lihat air mata mengalir dari kedua mata kamu, karena aku sangat mencintai kamu.” Lanjutnya sambil mengusap pipiku.”

Seketika itu pula harapan ku tumbuh lagi, tumbuh semakin besar dari sebelumnya. Aku percaya, semua ini adalah bagian dari rencana Tuhan yang telah dilukiskan dalam indahnya cinta. Dan aku berharap, sang fajar akan datang terlambat, karena aku tidak ingin semuanya berlalu begitu cepat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar